Kenang Gugurnya Pahlawan Jijen dan Kobir, Ir. H. Zahir, MAP Ikuti Taptu di Simpang Dolok

  • Whatsapp

Batubara, NAK- Bupati Batubara Ir.H.Zahir.MAP menghadiri malam Taptu dalam menyambut HUT RI ke 74 di Desa Simpang Dolok Kecamatan Datuk Lima Puluh Kabupaten Batubara, Jumat (16/08) malam.

Hadir dalam kegiatan Wakil Ketua DRPD Syafrizal Ramli.SE.MAP, Asisten II Setdakab Renold Asmara, Kadis Kominfo Andri Rahadian, AP, Danramil 03 Limapuluh di wakili Sertu Suhardi, Kapolsek Limapuluh AKP Jhony Andries Siregar, SH, Camat Datuk Limapuluh Ngatirun, SH, Kepala Desa Simpang Dolok Yusnan, mantan kades OK Suhemi, SH, Ketua MPC Pemuda Pancasila Kabupaten Batubara Zulkifli Has, Ketua IPK Zulkifli Efendi, Kades Cahaya Pardomuan Donny Ambarita, Anggota DPRD terpilih Azwar Simanjuntak, SE, Ketua PAC Datuk Limapuluh Irwansyah. SPd.

Muat Lebih

Tokoh masyarakat Ok Suhemi mengisahkan kronologis gugurnya pahlawan Jijen dan Kobir.

Pada saat ini komandan laskar rakyat kemerdekaan Republik Indonesia yaitu Letnan Hasbi bin Thalib Gading mendapat laporan dari laskar yang berada di Sungai Ular Perbaungan bahwa ada tentara Belanda yang akan melintasi Limapuluh dengan membawa pasukan senjata lengkap menaiki kereta api dari Medan menuju Kisaran.

Dengan adanya laporan tersebut komandan laskar Letnan Hasbi Bin Thalib Gading memberitahukan dan memerintahkan kawan kawan seperjuangan yang masih berkumpul di Simpang Dolok antara lain : Bachtiar Uteh, Biruddin Ahmad Bari, Itam Parto, M Yusuf, Ahmad Anwar, Itam Kingking, Bahrum dan banyak lagi yang tak dapat disebutkan namanya satu persatu dan pejuang ini semuanya sudah meninggal dunia.

Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 14 Agustus pada satu agresi ke ll penjajahan Belanda yang mengakibatkan gugurnya pahlawan anak bangsa Indonesia setelah kontak senjata antara laskar rakyat Indonesia dengan kolonial Belanda. Peristiwa ini terjadi pada 13 Agustus 1947 pukul 10.00.

Hanya yang masih hidup sampai sekarang adalah komandan laskar tersebut yaitu Letnan Hasbih bin Thalib Gading dan sekarang beliau tinggal di Serdang Bergadai dan menjadi Veteran Kabupaten Serdang Berdagai .

Pada tanggal 13 malam 14 Agustus 1947 Letnan Hasbih Bin Thalib Gading memerintahkan laskar yang ada di Simpang Dolok agar secepatnya bergerak datang ke Limapuluh. Tujuannya untuk melakukan sobotase dengan membongkar rel Kereta Api (KA) tersebut.

Laskar pejuang langsung mengadakan pembongkaran rel KA dengan susah payah di lokasi yang sekarang berada lebih kurang 500 meter dari blok 8 Limapuluh.

Pada 14 Agustus 1947 pukul 10.00 WIB datang KA dari jurusan Medan menuju Kisaran dengan 5 gerbong. Kepala gerbong KA disebut ada dua satu di depan dan satu ada di belakang gerbong.

Setelah gerbong depan terguling terjadilah kontak senjata antara kolonial Belanda dengan laskar Indonesia menggunakan senjata senapan Locok.

Laskar pejuang siaga menanti kedatangan KA mengangkut tentara kolonial Belanda setelah KA anjlok.

Setelah melepaskan gerbong terguling pasukan Belanda mundur kembali ke arah Medan dengan menggunakan kepala KA diposisi belakang sambil melepaskan tembakan kepada laskar Indonesia secara membabi buta.

Dilokasi pertemuran tiba Jijen Bin Umar dan Kobir bin Pudung yang diperintahkan mengantar nasi dan pembekalan ke laskar di Limapuluh menggunakan
sepeda onthel.

Sesaat tiba di lokasi Jijen dan Kobir meletakkan sepeda dan menyerahkan makanan kepada para laskar. Keduanya ikut bergabung dan berlindung di balik pohon rambung (karet).

Setelah gerbong depan terguling dan mendapat serangan maka tentara Belanda membalas menggunakan senjata kaliber 12,7 dan senapan mesin militer yang lebih canggih.

Saat baku tembak,Jijen dan Kobir hanya mempunyai senapan Locok roboh dan tewas tertembak pasukan Belanda. Jijen terkena tembakan di bagian kepalanya sedangkan Kobir tertembak di bagian dadanya.

Setelah itu KA yang membawa pasukan Belanda balik ke arah Medan, komandan laskar Indonesia Letnan Hasbi Bin Thalib Gading mengumpulkan teman teman seperjuangan.

Komandan Asbi Bin Thalib Gading segera membawa mayat Jijen dan Kobir bersama laskar pejuang yang selamat pada pertempuran tersebut ke Simpang dolok.

Masyarakat menyambut kedatangan jenazah yang kemudian di kebumikan di perkuburan muslim Simpang Dolok.
(Rh.)

Pos terkait